4 Kerugian Perusahaan Jika Meremehkan Pekerjaan HR


Tidak peduli sebuah perusahaan baru dirintis atau sudah menjadi perusahaan besar, keberadaan karyawan perlu dikelola dengan serius. HR management menjadi bagian tak terpisahkan dari keseluruhan proses bisnis perusahaan. Manajemen SDM yang baik akan membawa dampak positif bagi pertumbuhan bisnis perusahaan. Sebaliknya, SDM yang dikelola dengan serampangan pada akhirnya akan merugikan perusahaan itu sendiri.

Payroll Sofware Indonesia untuk Mengeloala Keuangan dan Karyawan Perusahaan | Gadjian

Hal yang sama juga berlaku bagi bisnis startup. Pada mulanya fungsi dan peran HR masih dapat ditangani langsung oleh pemilik usaha, sebab kebutuhan SDM masih sangat sederhana. Namun, seiring bertumbuhnya bisnis, pengusaha tak mungkin terus menerus melakukannya sendiri. Jabatan atau departemen HR pun mendesak untuk segera dibentuk guna menangani persoalan SDM yang semakin kompleks.

Sayangnya, sebagian pengusaha masih beranggapan departemen atau jabatan HR itu tidak penting, bahkan dipandang sebagai pemborosan anggaran karena tak berkontribusi pada produktivitas perusahaan. Benarkah demikian? Berikut ini dampak kerugian yang harus ditanggung perusahaan karena menganggap sepele peran Human Resources (HR):

1. Turnover Karyawan Tak Terkendali

Kerugian pertama yang akan terasa adalah masalah turnover karyawan. Perusahaan yang tak memiliki departemen HR akan sulit mengelola karyawan, termasuk mengelola ekspektasi, mengelola hak, serta kewajiban mereka. Meningkatnya jumlah karyawan yang resign tak mampu diimbangi dengan angka karyawan yang berhasil direkrut. Pada akhirnya, produktivitas perusahaanlah yang dikorbankan.

Perusahaan bisa saja bertahan tanpa departemen HR dengan mengandalkan proses rekrutmen-seleksi yang ditangani sendiri oleh masing-masing departemen yang saat itu membutuhkan karyawan baru. Namun, seberapa efektifkah cara ini? Pertama, tidak semua karyawan memiliki keterampilan melakukan proses rekrutmen dan seleksi. Proses seleksi yang tidak terstandarisasi –belum lagi hasilnya– tentu akan menyulitkan perusahaan di kemudian hari. Yang kedua, cara di atas membuat pencapaian target kerja karyawan di masing-masing departemen terganggu karena disibukkan dengan pekerjaan merekrut, yang mana ini menjadi pekerjaan ekstra di luar job description yang seharusnya.

Baca Juga: 5 Cara Meningkatkan Employee Engagement Ketika Merayakan Ulang Tahun Karyawan

2. Mengeluarkan Biaya Besar

Karena tugas-tugas HR tak dapat dihilangkan sama sekali, tak jarang perusahaan harus menggunakan jasa pihak ketiga (outsource) untuk menangani permasalahan karyawan setiap kali dibutuhkan. Barangkali saat ini mudah saja untuk menemukan lembaga yang menyediakan jasa rekrutmen dan seleksi karyawan. Masalah rekrutmen dapat selesai dengan menyewa jasa mereka. Namun, setelah itu perusahaan harus menyewa orang lain lagi untuk me-review sistem reward yang adil, hingga merancang bagaimana cara menghitung gaji karyawan. Begitu pula untuk mendesain pelatihan karyawan, diperlukan jasa pihak ketiga untuk melakukannya, dan begitu seterusnya.

Risiko terbesar adalah ketidakselarasan visi antar-penyedia jasa dalam merancang dan melaksanakan program pengelolaan karyawan. Namun, risiko paling awal yang akan terasa adalah betapa besarnya biaya yang harus ditanggung perusahaan untuk menggantikan peran HR yang normal.

Baca Juga: Aturan Mempekerjakan Karyawan Outsourcing (Alih Daya) di Indonesia

3. Pengembangan SDM yang Tidak Terarah

HR merupakan jembatan perusahaan dalam mengkoordinasi karyawan untuk mencapai tujuan bersama, yaitu produktivitas optimum perusahaan. Dengan adanya jabatan/departemen HR, arah kebijakan bisnis perusahaan dapat diaplikasikan dalam skala target performa individu karyawan. Pengembangan SDM akan diarahkan menuju visi bersama perusahaan, dengan berbagai model intervensi, misalnya melakukan rotasi karyawan untuk penyegaran, meluncurkan program pinjaman karyawan untuk mengikat karyawan potensial, mengubah gaya rekrutmen untuk menjaring pasar millennial, melakukan PHK untuk efisiensi, dan lain-lain. Tanpa adanya divisi yang khusus menangani hal tersebut, perusahaan tentu lebih sulit mengelola karyawan untuk menyesuaikan diri dengan kebijakan bisnis yang dibuat.

Baca Juga: Belajar dari Facebook: 5 Tips Memikat Karyawan Millennials untuk Startup dan UMKM

4. Menurunkan Reputasi Perusahaan

Bagaimana karyawan dikelola dalam sebuah perusahaan, akan berpengaruh pada reputasi perusahaan itu. Bukan sebuah kebetulan jika perusahaan-perusahaan terfavorit bagi para pencari kerja memiliki manajemen HR yang sangat baik. Reputasi perusahaan yang baik tidak saja menguntungkan untuk mencari kandidat karyawan terbaik, tetapi juga sekaligus membangun kepercayaan konsumen, investor, dan partner bisnis lainnya. Sebaliknya, pengalaman kerja yang kurang memuaskan bahkan lingkungan yang cenderung tidak sehat bagi karyawan, akan menurunkan reputasi perusahaan. Apalagi pada masa sekarang, kabar negatif tentang perusahaan dapat mudah merebak melalui media sosial.

Baca Juga: Melamar Jadi HRD? Berikut Hal-Hal yang Perlu Dipersiapkan

Itulah kerugian yang akan dialami oleh perusahaan yang menyepelekan peran penting HR sebagai strategic partner. Jika tak ingin hal-hal di atas dialami oleh perusahaan Anda, manajemen perusahaan, business owner, serta HR harus lebih berfokus dalam pengelolaan SDM yang strategis. Jangan lagi perusahaan membiarkan HR-nya tenggelam dalam pekerjaan-pekerjaan administratif yang menyita waktu. Ini membuat HR tak maksimal dalam menjalankan peran strategisnya di tengah situasi persaingan bisnis yang sengit.

Pekerjaan administrasi HR selayaknya diserahkan pada HRIS online seperti Gadjian. Sebagai payroll software Indonesia, Gadjian telah melengkapi fiturnya dengan cara menghitung THR dan perhitungan PPh 21 sesuai aturan pemerintah yang terbaru. Setiap periode penggajian, karyawan pun dapat dengan mudah mengakses aplikasi slip gaji online.

Payroll Software Indonesia Untuk Mengelola Keuangan & Karyawan Perusahaan, termasuk perhitungan PPh 21, perhitungan BPJS, dan perhitungan lembur | Gadjian

Bagikan artikel ini:

sumber : gadjian.com

.
.



<noscript> </body> </html>