Inilah Beberapa Pemicu Kegagalan Proses Training Karyawan Baru


Setelah proses rekrutmen, pihak perusahaan biasanya akan direpotkan dengan proses training karyawan yang baru saja bergabung dengan perusahaan. Training sangat penting diberikan kepada karyawan yang baru saja bergabung tak peduli seberapa senior dan berpengalamannya sang karyawan.

Pasalnya, training memang ditujukan untuk menyamakan skill serta visi dan misi karyawan yang baru bergabung dengan perusahaan terutama dengan karyawan lama yang nantinya akan jadi rekan selama bekerja bersama.

Kendati dianggap penting dan telah dipersiapkan dengan baik, tak jarang training untuk karyawan baru terkadang mengalami kegagalan. Misalnya, kurang bersinerginya si karyawan baru dengan budaya kerja perusahaan atau meningkatnya angka turnover karyawan.

Kegagalan ini biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah training. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut ini adalah beberapa hal yang kemungkinan menjadi pemicu kuat gagalnya sebuah training bagi karyawan baru.

1. Kesalahan saat memilih pelatih alias trainer.

Penyebab pertama kegagalan dalam proses training karyawan baru biasanya adalah soal kesalahan perusahaan saat memilih pelatih atau trainer. Tak peduli sekeren apapun materi training yang sudah perusahaan siapkan, jika si trainer tidak kompeten maka training untuk karyawan baru hampir pasti berpotensi mengalami kegagalan.

Hal ini bisa disebabkan karena si trainer mungkin saja kurang pas dalam menyampaikan materi atau bisa jadi trainer terlalu fokus pada materi bukannya prakterk. Training yang baik nan ideal (terlebih bagi karyawan yang datang dari generasi millennials) memang harus disampaikan secara interaktif dan praktikal.

Oleh karena itu, memilih trainer yang sangat paham materi saja tidak cukup. Trainer wajib memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan mampu mencontohkan tiap materi yang diberikan dengan baik. Karena perlu diingat, pada dasarnya materi training bagi karyawan baru sebenarnya tak hanya berhenti pada saat proses pemberian materi saja. Melainkan akan terus dipraktikan si karyawan hingga seterusnya.

Penting karenanya memilih trainer yang ideal dan mampu memberi contoh tak hanya omongan saja, agar kegagalan pasca training karyawan baru bisa diminimalisir.

2. Kurang detail dalam menyajikan materi training.

Meski hal ini jarang terjadi, tapi tanpa disadari terkadang pihak perusahaan lupa menyajikan materi training secara detail. Bukan hanya sekadar peraturan atau team work saja, agar tak mengalami kegagalan maka materi training perlu dispesifikasi terutama masalah-masalah yang nampak kecil dan selama ini tak terpikirkan seperti budaya perusahaan.

Informasi mengenai tradisi, kebiasaan, ritme kerja serta aktivitas ekstra perusahaan wajib disajikan selama proses training dan jika perlu silakan dimasukan dalam silabus training. Mengapa hal sekecil ini penting disampaikan selama proses training, karena dengan mengomunikasikan budaya kerja sedari awal sama saja dengan mempersiapkan karyawan menghadapi aktivitas harian di perusahaan serta mengurangi shock jika misalnya si karyawan ada perbedaan nilai budaya.

Tanpa disadari, mengenalkan hal-hal kecil namun detail seperti budaya perusahaan sebenarnya dapat membuat si karyawan baru merasa berada di tempat yang benar. Hal ini dapat mengurangi risiko kehilangan motivasi kerja karyawan baru yang berujung pada menurunnya produktivitas, munculnya konflik kerja dan yang paling tidak diinginkan adalah tingkat turnover yang tinggi.

3. Perusahaan tak benar-benar peduli pada proses pasca training.

Tak peduli yang dimaksud disini adalah perusahaan terkadang hanya sebatas melakukan kewajiban untuk men-training karyawan baru tanpa melihat atau meminta feedback dari si karyawan, pemberi materi hingga rekan kerja. Kepedulian perusahaan sangat penting menentukan apakah proses training pada karyawan baru berjalan sesuai dengan prosedur dan tujuannya atau tidak.

Jika perusahaan peduli, maka kondisi seperti karyawan yang masih belum paham core value atau budaya kerja bisa diminimalisir. Hal ini akan memudahkan perusahaan sebenarnya, karena memastikan karyawan bisa beradaptasi atau bisa bekerja sama dengan rekan kerja lainnya dan bisa berkontribusi aktif pada perusahaan.

Dengan langkah ini juga, kemungkinan adanya konflik dan juga turnover di tubuh perusahaan pun bisa dihindari.

Terlepas dari beberapa hal di atas, satu hal paling penting dan menjadi kunci berhasilnya proses training bagi karyawan baru adalah perusahaan atau bagian HR yang selalu mempersiapkan tiap proses training dengan baik. Meski tak bisa dibilang mudah, mengorganisir proses training di era digital seperti sekarang nyatanya tak serepot yang dipikirkan.

Banyak software yang siap sedia membantu perusahaan mengorganisir proses training terutama bagi karyawan baru dengan baik dan lebih sistematis. Salah satunya adalah Talenta, yang dengan fitur khususnya dapat membantu pekerjaan perusahaan lebih mudah dan menjamin keberhasilan proses training itu sendiri.

Sumber gambar : www.unsplash.com

sumber : blog.talenta.co

.
.



<noscript> </body> </html>