Panduan Tak Tertulis Agar Perusahaan Tak Salah Merekrut Karyawan


Sudah ternamanya sebuah perusahaan dan digunakannya perangkat canggih memang tak bisa menjamin proses rekrutmen sukses di sebuah perusahaan. Karena memang pada dasarnya, proses rekrutmen sendiri tidaklah semudah seperti yang dibayangkan.

Dalam proses, bisa saja karyawan yang kita anggap berpotensi mengundurkan diri karena satu dan lain alasan. Atau yang terburuk, bisa saja dalam prosesnya ternyata perusahaan sudah merekrut karyawan yang salah.

Sayangnya, kesalahan saat merekrut karyawan ini terkadang tak dipahami oleh perusahaan. Entah tidak tahu atau tidak mau mengetahui, kebanyakan perusahaan malah terjebak atau terkelabui oleh kandidat yang kurang kompeten dan berakhir pada penyesalan karena si kandidat yang telah menjadi karyawan kerap kali membuat masalah atau malah bekerja tidak sesuai ekspektasi juga target.

Untuk itulah, selama proses rekrutmen Anda wajib mengetahui bagaimanakah tanda-tanda karyawan yang nantinya berpotensi menimbulkan masalah. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut beberapa panduan untuk mengetahuinya khusus untuk Anda.

1. Ia datang terlambat saat interview dan psikotest tanpa konfirmasi

Salah satu tanda bahwa si kandidat berpotensi akan bermasalah di masa depan, bisa dilihat dari kedisplinannya saat proses rekrutmen. Apakah ia datang tepat waktu kala psikotest dan interview atau malah datang terlambat.

Meski tak bisa dijadikan tolok ukur pasti, akan tetapi kandidat yang datang terlambat terlebih tanpa konfirmasi bisa jadi tanda jika nantinya selama bekerja ia adalah orang yang kurang bisa disiplin terutama soal waktu. Hal ini bisa dijadikan cermin atau acuan tak tertulis bahwa kandidat masih kurang cakap memanajemen waktunya sendiri.

Jika Anda menemui kandidat yang seperti ini, maka Anda wajib mempertimbangkan menerimanya dengan matang-matang. Pertimbangkan faktor lainnya jika memang ia berpotensi. Bisa dari hasil interview atau hasil psikotest yang dapat menggambarkan bagaimana kepribadian si kandidat dalam citra yang lebih umum.

2. Selama proses interview, kandidat kerap membandingkan pekerjaan lama

Bukan suatu kejutan jika selama proses rekrutmen, ada kandidat yang terkadang masih suka membicarakan soal perusahaan lamanya (khusus untuk kandidat yang berpengalaman). Biasanya, perusahaan juga memang terkadang membutuhkan informasi atau gambaran bagaimana ia berhubungan dan bekerja di kantor lamanya.

Namun jikalau si kandidat selama proses wawancara justru kerap membandingkan perusahaan lamanya dengan perusahaan Anda, maka Anda wajib waspada. Kandidat seperti ini, biasanya cenderung tak pernah puas dengan apa yang diberikan oleh perusahaan atau apa yang ia dapat dari perusahaan.

Untuk mengobati ketidakpuasannya itu, maka jalan yang dilakukannya tak jauh dari membanding-bandingkan sebagai tanda bahwa ia sebenarnya adalah aset perusahaan yang harus dihargai lebih. Kandidat yang kerap membandingkan bahkan ke arah menjelek-jelekkan perusahaan lama juga bukanlah kandidat yang tepat untuk Anda rekrut.

Pasalnya, di hadapan Anda bisa jadi ia kini menjelek-jelekkan perusahaan tempat lamanya bekerja. Namun kala nanti ia mendapat kesempatan untuk interview dengan perusahaan lain setelah bekerja dengan Anda, bukan tidak mungkin ia akan juga menjelek-jelekkan perusahaan Anda ke perusahaan baru.

Sifat kandidat yang seperti ini sudah sepatutnya diwaspadai, karena hal ini tak bedanya ia adalah karyawan yang bermuka dua.

3. Terlalu agresif saat berkomunikasi selama interview

Kandidat yang aktif berkomunikasi selama interview bisa menandakan dua hal. Pertama, ia memang kandidat yang cakap dan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan se-asing apapun. Atau yang kedua, dia adalah kandidat yang kelewat percaya diri dan bisa mengindikasikan sifat yang egois dan keras kepala.

Kandidat yang terlampau agresif selama berkomunikasi memang cenderung menggambarkan individu yang ingin selalu didengar dan egois. Hal ini nantinya bisa menjadi batu sandungan atau halangan kala nanti si kandidat sudah bekerja dalam tim atau sebuah divisi di perusahaan.

Ia akan cenderung susah bekerja sama karena hampir selalu ingin didengar dan kurang dapat merangkul semua rekan kerja terutama yang memiliki sifat lebih introvert. Bukannya merangkul untuk bekerja sama, kandidat yang seperti ini nantinya akan cenderung bossy saat bekerja di dalam tim dan tak jarang membuat rekan kerja lainnya tak nyaman bekerja di sekitarnya.

Itulah beberapa tanda yang bisa Anda jadikan panduan agar tak salah merekrut karyawan. Namun sebenarnya, hal-hal minor seperti ini dapat diatasi jika Anda memanfaatkan software HR seperti Talenta.

Melalui fitur Recruitment Tracking, Anda bisa dengan mudah memilih dan memilah karyawan terbaik yang ingin Anda ajak bergabung dengan perusahaan. Anda juga bisa dengan mudah mengawasi proses rekrutmen, karena memang Talenta menawarkan sistem database yang terintegrasi dan sistematis.

sumber : blog.talenta.co

.
.



<noscript> </body> </html>